RSS

Mendustakan Takdir

20 Jun

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَتَخَوَّفُهُ عَلَى أُمَّتِيْ آخِرَ الزَّمَانِ ثَلاَثاً : إِيْمَانًا بِالنُّجُوْمِ وَ تَكْذِيْبًا بِالْقَدْرِ وَ حَيْفَ السُّلْطَانِ.

Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku di akhir zaman adalah tiga perkara: beriman kepada bintang, mendustakan takdir, dan kezaliman penguasa.”[1]

Beriman kepada takdir adalah rukun iman yang ke enam, hal ini merupakan keyakinan seluruh kaum muslimin. Beriman kepada qadha dan qadar memberikan pengaruh yang sangat indah kepada kehidupan seorang mukmin, di antara pengaruh itu adalah:

Pertama: Mendapatkan Hidayah dan Menambah Iman dan Tawakkal

Allah Ta’ala berfirman,

مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Ath Thaghabun: 11).

Alqamah rahimahullah berkata, “Ia adalah orang yang ditimpa musibah, dan ia yakin bahwa semua itu dari Allah Ta’ala, lalu ia pun menyerah dan ridha.”[2]

Kedua: Sabar dan Tidak Berputus Asa

Beriman kepada takdir memberikan kekuatan kepada seorang hamba untuk senantiasa bersabar. Seorang mukmin yakin bahwa jika ia tidak sabar, takdir tetap tidak akan berubah. Namun jika ia sabar niscaya akan ada manfaat yang amat banyak dan keberkahan dalam hidupnya serta akibat yang baik di akhirat kelak.

Berbeda dengan orang yang lemah keimanannya terhadap takdir. Kamu lihat ia tidak mampu menanggung beban hidup, cepat mengeluh, dan berputus asa. Sedikit saja musibah menimpa, ia segera berburuk sangka kepada Rabbnya. Semoga Allah melindungi kita dari sifat tersebut. Amin.

Ketiga: Tawadhu

Beriman kepada takdir menjadikan pelakunya tawadhu dan tidak menyombongkan diri, karena ia yakin bahwa semua yang ia miliki adalah dengan takdir Allah. Jika Allah menghendaki, pasti Allah akan cabut semuanya, sehingga seseorang pun akan merendahkan hatinya dan tunduk kepada Allah dan khawatir bila berbuat sombong, Allah akan cabut semua kelebihan yang ia miliki.

Apabila seorang hamba tawadhu (rendah hati), ia akan menjadi mulia, tinggi harkatnya, harum namanya, dan terdengar indah di hati-hati para hamba. Karena orang yang tawadhu karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya, dan jika Allah telah mengangkat derajatnya, maka siapakah yang mampu untuk merendahkannya?!

Keempat: Qana’ah (merasa cukup)

Orang yang beriman kepada takdir yakin bahwa rezekinya telah ditulis dan bahwasannya jiwa tidak akan meninggal sampai rezekinya selesai. Rezeki tidak datang karena ketamakkan dan tidak juga karena kedengkian. Apabila seluruh manusia berusaha menyampaikan rezeki kepadanya atau mencegah rezeki darinya, tidak akan terlaksana kecuali dengan takdir Allah ‘Azza wa Jalla.

Dari sinilah qanaah akan muncul, jiwa akan menjadi kuat dan tidak menghinakan diri di hadapan manusia. Bukan berarti hanya bergantung kepada takdir dan tidak mau berusaha, namun qanaah menjadikan seseorang tidak tamak dan rakus terhadap harta dunia, sehingga ia hanya mencukupkan diri dengan yang halal dan menjauhi yang Allah haramkan.

Dan pengaruh-pengaruh baik lainnya. Dan pengaruh ini akan hilang bila manusia tidak beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Dan firqah atau kelompok yang menolak takdir adalah Qadariyah yang mengatakan bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan hamba dan bahwasannya hambalah yang menciptakan perbuatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa mereka adalah majusi umat ini, beliau bersabda,

إِنَّ مَجُوسَ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُكَذِّبُونَ بِأَقْدَارِ اللَّهِ

Sesungguhnya Majusi umat ini adalah orang-orang yang mendustakan takdir Allah.” (HR. Ibnu Majah).[3]

Karena kaum Majusi menisbatkan kebaikan dan keburukan kepada cahaya dan kegelapan, sedangkan kaum Qadariyah menisbatkan keburukan kepada dirinya dan meyakini bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan buruknya.

 

Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc.

Sumber: http://www.cintasunnah.com


[1] Silsilah shahihah, no.1127.

[2] Zadul masiir ibnul Jauzi, 8:283.

[3] Dihasankan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah dalam shahih ibnu Majah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 20, 2012 in Aqidah, Tema Bebas

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: